Minggu, 03 Desember 2017
PDI Perjuangan Rumah Kebangsaan untuk Indonesia Raya
10 JANUARI 2017
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastyastu,
Namo Buddhaya.
Sebelumnya, marilah kita terlebih dahulu bersama-sama memekikkan salam nasional kita.
Merdeka !!! Merdeka !!!
Yang saya hormati, Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Bapak Zulkifli Hasan, sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional;
Ketua DPR RI, Bapak Setya Novanto dan sekaligus Ketua Umum Partai Golkar;
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Bapak Muhaimin Iskandar;
Ketua Umum Partai Nasdem, Bapak Surya Paloh;
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Bapak Muhammad Romahurmuziy;
Ketua Umum Partai Hanura, Bapak Osman Sapta;
Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Bapak A.M. Hendropriyono;
Para Menteri Koordinator, dan Para Menteri Kabinet Kerja yang hadir di acara ini;
KH. Said Agil Siraj, Ketua Umum Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama;
Yang saya hormati senior Partai, Bapak AP Batu Bara;
Seluruh kader Partai; teman-teman pers dan hadirin yang mohon maaf saya tidak bisa sebut satu persatu.
Pengertian Dan Isi 4 Pilar Bangsa Indonesia Sebagai Negara NKRI
Isi 4 Pilar Kebangsaan1. Pilar Pancasila
Pilar mulailah bagi tegak kokoh berdirinya negara-bangsa Indonesia adalah Pancasila. Timbul pertanyaan, mengapa Pancasila diang
kat sebagai pilar bangsa Indonesia. Perlu dasar pemikiran yang kuat dan meraih dipertanggung jawabkan sehingga meraih diterima oleh seluruh warga bangsa, mengapa bangsa Dalam negri menetapkan Pancasila sebagai base kehidupan berbangsa dan bernegara. Berikut alasannya Pilar / tiang penyangga suatu bangunan harus memenuhi syarat, seperti disamping kokoh dan mantap, juga harus sesuai dengan bangunan yang disangganya. Devocionario bangunan rumah, tiang yang diperlukan disesuaikan dengan macam dan kondisi bangunan.
Bilamana bangunan tersebut sederhana gak memerlukan tiang yang terlampau kuat, tetapi bila bangunan tersebut merupakan bangunan permanen, konkrit, yang menggunakan bahan-bahan yang berat, maka asas penyangga harus disesuaikan dengan kondisi bangunan dimaksud. Demikian pula halnya dengan base atau tiang penyangga salahsatu negara-bangsa, harus sesuai dengan kondisi negara-bangsa yang disangganya.
Kita menyadari bahwa negara-bangsa Indonesia adalah negara yang besar, wilayahnya cukup besar seluas daratan Eropah yang terdiri atas berpuluh pelosok, membentang dari barat ke timur dari Sabang hingga Merauke, dari utara ke selatan dari pulau Miangas sampai pulau Rote, meliputi ribuan kilometer.
Indonesia yaitu negara kepulauan terbesar pada dunia yang memiliki 19 000 pulau lebih, terdiri atas berbagai suku bangsa yang beraneka adat serta budaya, serta memeluk seluruh agama dan keyakinan, lalu belief system yang dibuat pilar harus sesuai dengan kondisi negara bangsa ini.
2. Pilar Undang-Undang Dasar 1945
Pilar kedua kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia adalah Undang-Undang Basis 1945. Dalam rangka memahami dan mendalami UUD 1945, diperlukan memahami lebih dulu makna undang-undang dasar teruntuk kehidupan berbangsa dan bernegara dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
JAS MERAH "Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah"
”Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”. Itulah salah satu inti pesan yang disampaikan oleh Bung Karno pada pidato di depan MPRS, 17 Agustus 1966, yang kemudian dikenal sebagai pidato Jasmerah.Menurut AH Nasution, Jasmerah merupakan akronim (singkatan) yang dibuat oleh Kesatuan Aksi, sedangkan Bung Kano sendiri memberi judul agak panjang atas pidatonya tersebut yakni ”Karno Mempertahankan Garis Politiknya yang Berlaku, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.
Pidato Jasmerah merupakan pidato resmi terakhir Bung Karno sebagai presiden menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Soeharto pascapenerbitan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Setelah itu Bung Karno tidak pernah lagi menyampaikan pidato sebagai presiden. Bung Karno memang sangat pandai menyedot perhatian dan menyihir publik dengan pidato-pidatonya yang memukau.
Dia orator yang, rasanya, belum ada tandingannya sampai sekarang. Selalu tampil gagah dan berpidato dengan gaya dan intonasi yang sangat bagus, Bung Karno juga sangat pandai menyusun kalimat dan melemparkan ungkapan-ungkapan yang sangat menarik seperti pidato Jasmerah itu. Saat berpidato Jasmerah itu Bung Karno bukan hanya menjelaskan sikap politiknya, melainkan juga mengajari kita tentang filosofi sejarah.
Mengenai sikap politik Bung Karno mengatakan, Supersemar telah dibelokkan menjadi semacam pemindahan kekuasaan. Kata Bung Karno, sejatinya, Supersemar adalah perintah kepada Jenderal Soeharto untuk melakukan pengamanan atas situasi buruk menyusul Peristiwa G 30 S (Gerakan 30 September) yang oleh Bung Karno disebut Gestok (Gerakan 1 Oktober).
Supersemar itu dibelokkan menjadi surat penyerahan kekuasaan pemerintahan atau transfer of power , sesuatu yang menurut Bung Karno jauh dari maksud yang sebenarnya. Yang tak kalah menarik dari pidato Bung Karno itu adalah filosofi tentang bekerjanya hukum sejarah. Sang Proklamator mengajak bangsanya untuk tidak sekali-sekali melupakan sejarah karena sejarah adalah semacam kaca benggala tentang siapa kita, harus ke mana kita, dan apa akibat-akibat dari setiap langkah kita.
Sejarah selalu bercerita tentang pengulangan-pengulangan pengalaman manusia sebagai hukum sejarah, ”Yang berbuat salah selalu menerima hukumannya, yang berlaku benar akan mendapat ganjarannya.” Jangan lakukan kejahatan karena menurut sejarah, cepat atau lambat, pelakunya akan ditimpa nestapa; selalulah berusaha berlaku benar karena kebenaran itu akan menyelamatkan dan membahagiakan. Itulah pesan sejarah. Maka itu, jangan sekalisekali melupakan sejarah.
Adalah menggetarkan, ternyata pidato Jasmerah Bung Karno sangat sejalan dengan banyak ayat Alquran yang mengingatkan manusia untuk selalu belajar dari sejarah. Saya mengira pandangan Bung Karno tentang pentingnya belajar pada sejarah itu diperoleh dari pengalamannya mendalami Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)